Senin, 03 Oktober 2011

MERAMU HIDUP DENGAN PERJALANAN


SEMUANYA berkumpul di terminal Garuda Indonesia, Bandar Udara Soekarno Hatta jam 1 siang sebelum keberangkatan Ke Damaskus yang akan transit di Doha. Di Damaskus ada sejumlah tempat eksotik yang sayang tak dikunjungi antara lain: ke Gunung Qosiyun, Tikyi Sulaimani, ziarah makam ke sahabat Bilal bin Ar-Rabah dan para Syuhada Karbala, Masjid Umawi (makam nabi Yahya dan Menara Isa yang dipercaya tempat turunnya nabi Isa pada akhir zaman), makam Salahuddin Al_Ayobi (pejuang membebaskan Baitul Maqdis dari tentara salib), kincir air tertua di dunia di tebing sungai Orontes, Crac Des Chevalier Castle.

Kemudian perjalanan dilanjutkan. Rombongan kami tiba di Jeddah melalui King Abdul Azis Airport. Dari Jeddah kami langsung diboyong  ke Madinah Al-Munawarrah dengan jarak tempuh 390 km dalam waktu 6 jam. Aku dan yang lain menginap di Rawdah Luxurious Hotel, tidak jauh dari pelatar Masjid Nabawi. Hari pertamaku di Madinah ziarah dalam ke Raudhoh (tempat mustajab). Banyak orang keliru dengan tempat ini karena Raudhoh tidak luas, cirinya karpet warna hijau dan putih dan bermihrab dalam masjid. Konon yang melaksanakan sholat 2 rakaat lalu berdoa di sini. Semua permintaan kita akan dikabulkan Allah. Di sini, aku berdo’a pada Allah untuk mengampuni dosa-dosaku, memberiku petunjuk dalam sisa umurku di dunia. Sholat di tempat ini sangat berjejal, semua umat Nabi Muhammad yang ke Madinah bertujuan utama untuk sholat di sini. Semua dibagi menjadi beberapa ras oleh laskar-laskar perempuan. Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura masuk ke dalam ras Melayu. Yang akan dapat giliran terakhir, giliran jam 10 pagi waktu setempat. Sebab bila kita tak seras, atau kita mengikuti ras lain seperti orang-orang Pakistan, Mesir, atau Bangladesh kita akan terjepit oleh tubuh mereka yang tinggi dan besar. Setelah beberapa kali sholat dan berdo’a akupun keluar Raudhoh. Tapi tidak keluar Masjid, aku sholat sunat lagi. Pada rakaat kedua aku merasa seluruh permukaan kulitku seperti teriris, luka. Seusai salam, aku periksa ternyata tak terjadi apa-apa di kulitku. Lalu aku teringat, doa ketika di Raudhoh. Mungkin Allah menghapuskan dosa-dosaku itu, namun rasanya tak terelakan perihnya. Hingga dua jam aku iktikaf dan perih itu masih terasa membaluri pori-pori.
Di dalam masjid Nabawi sendiri ada makam Rasulullah SAW dan dua sahabat beliau Abu Bakar dan Umar R.A, selain itu ada juga mahtabnya Fatimah. Bilik tua dengan warna abu-abu yang setiap dindingnya dihiasi ventilasi kecil persegi enam. Aku duduk persis di belakang mahtab Fatimah tersebut. Kini yang menghuninya adalah burung-burung dara yang warnanya beragam dengan bulu lembut dan ukuran mereka besar-besar. Pemanduku cerita, bahwa di komplek mahtab ini dulu Nabi Muhammad hanya sendiri, kala itu belum ada bangunan apapun, tak semegah ini. Di padang kerontang itu, Nabi hanya ditemani sebatang pohon kurma yang tak kalah kerontangnya. Pohon kurma itu menangis, keinginannya tak lain hanyalah menemani Nabi Muhammad. Oleh kesetiaannya itu, nabi menamainya Azwa. 
Setiap usai sholat maghrib, sejumlah ustadzah melakukan pengajian di dalam masjid sembari menunggu waktu Isya. Ada satu hal yang bisa kuresapi, ketika seorang dari mereka di pojok kanan mengurai sebuah hadits Nabi Muhammad. Yang isinya bahwasanya Nabi Muhammad melarang umatnya untuk meminta pekerjaan, menjilat untuk memperoleh kedudukan dalam karier, atau memperoleh pekerjaan karena faktor koneksi atau kenalan atau keluarga, apalagi bekerja yang diawali menyogok seseorang/lembaga. Bagi yang mendapatkan pekerjaan dengan cara demikian, kata Nabi Muhammad; “Sesungguhnya mereka itu tidak lebih hina dari anjing.” Masya allah. Sekejab aku teringat kebiasaan orang-orang di negaraku, kebiasaan yang mendarah daging bagi sejumlah kalagan di Indonesia.     
Hari-hari berikutnya aku berziarah ke tempat-tempat yang bersejarah; Masjid Qiblatain (Masjid dua kiblat), kala itu Nabi Muhammad shalat Ashar yang arahnya ke Baitul Maqdis ke Palestina pada rakaat pertama dan kedua, Nabi Muhammad berdo’a agar umat Islam tidak lagi sholat mengarah sana maka dengan kekuasaan Allah di rakaat ketiga dan keempat Nabi shalat sudah mengarah ke Mekkah ke Baitullah, Masjid Quba (Masjid pertama yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW) bila kita sholat tahyatul masjid dan sholat sunat lagi dua rakaat pahalanya sama dengan kita menunaikan ibadah umroh, Jabal Uhud (Makam para Syuhada Perang Uhud, antara lain Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib yakni paman Rasulullah dalam perang tersebut ada 70 sahabat  yang juga gugur), Sab’ah Masjid di Khandaq (merupakan gardu penjagaan waktu mempertahankan kota Madinah), lalu ke Kebun Kurma (ada teh kurma yang airnya berasal dari air palestina/ zero point atau bersatunya sub polar dan nonpolar), Jabal Magnit (mobil bisa berjalan dengan sendirinya tanpa mesin) dan Percetakan Al-Quran.
Di Madinah, aku merasa suhunya luar biasa panasnya. Wajah kita seperti dipangang di oven. Aku tanya berapa derajat panasnya, seorang memberitahuku 540, bahkan diantara kami ada yang seluruh kakinya melepuh terluka karena kepanasan. Dalam panas itu, aku melihat sejumlah orang Arab duduk di tengah jalan tanpa beralaskan tikar atau semacamnya. Beberapa keluarga kulit hitam duduk melingkar menghadapi lempengan roti yang sangat besar. Aku takjub. Di sini semua orang flu dan batuk, tak terkecuali. Termasuk aku.
Hari terakhir di Madinah rombongan bus kami menuju Biir Ali melakukan niat Umroh (Miqat) lalu sholat dua sunat rakaat dan melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Sambil membaca isti’lam aku merenung. Aku tidak pernah bermimpi ataupun membayangkan kalau puasa ramadhan tahun ini akan kulalui di luar daerah. Hanya saja setiap mendengarkan cerita orang ke Baitullah, hatiku menangis. Ingin rasanya menikmati perjalanan bathin di rumah Allah itu.
Saudi Arabia terdiri dari 13 provinsi: Bahah, Hududusy Syamaliyah, Jauf, Madinah, Qasim, Riyadh, Syarkiyah, Arab Saudi (Provinsi Timur), ‘Asir, Ha’il, Jizan, Makkah, Najran dan Tabuk. Merdeka pada 23 september 1932, Andul Azis as-Sa’ud – dikenal juga dengan sebutan Ibnu Sa’ud memproklamasikan berdirinya kerajaan Saudi Arabia(al-Mamlakah al’-Arabiyah as-Su’udiyah). Jeddah adalah kota pelabuhan utama (pelabuhan laut maupun pelabuan darat) didirikan oleh Sayyidina Utsman bi Affan. Jeddah terletak di Provinsi Mekah. Kota terbesar kedua di Negara Arab Saudi selain Riyadh.
Di Makkah kami menginap di Rawabi Al-Taj. Dari namanya aku yakin pemiliknya pasti orang India. Hotel ini persis di belakang Grand Zamzam yang berhadapan langsung pintu dengan Masjidil Haram, pintu 1 King Malik Abdul Aziz. Dan benar saja dugaanku, tidak seperti di Hotel Rawdah di Madinah yang dihuni beragam suku bangsa. Di hotel ini, sebagian besar di huni orang India dan Srilangka. Ukuran kamarnyapun tak seperti seluas di Madinah. Di sini kamar kami tak dilengkapi dapur dan ruang tamu. Hanya kamar dan kamar mandi. Beruntung menu makannya ala Banjar semua. Hal ini yang menjadi kecemburuan rekan kami yang tinggal di Hotel Hilton, setiap kali disuguhi masakan ala Eropa. Tak pas dilidahnya. Di Makkah, panasnya tak jauh beda dengan Kota Palu. Sehingga sejumlah aktivitas yang kulakukan tak terpengaruh oleh cuaca hari. 
Selanjutnya ke Masjidil Haram untuk melakukan Umroh; Thawaf, Sa’I, ditutup Tahalul. Pertama kali masuk ke Masjidil Haram lewat pintu 1, hatiku bergetar bercampur haru. Aku lihat jutaan manusia memenuhi masjid juga Ka’bah. Setelah berniat thawaf dan keliling 7 putaran, aku sholat dua rakaat di belakang makam Nabi Ibrahim. Usai sholat aku mengangkat kedua tanganku yang dialiri airmataku sendiri. Inilah tanah haram yang berarti haram api neraka menjilatnya. Betapa beruntungnya orang meninggal dunia di sini. Aku membathin.  Betapa meruginya orang yang mempunyai kemampuan materi namun tidak tergerak hatinya pergi ke rumah Allah. Namun begitulah, Allah akan memilih dan memanggil siapa-siapa yang menjadi tamu rumahNya itu. Termasuk aku, yang hingga kini tak memiliki rumah. Aku hanyalah orang kost-kostan yang tinggal dihunian ukuran 6 X 12 meter, itupun sudah termasuk ruang tamu, kamar, dapur, dan kamar mandi. Aku menyebutnya rumah burung, karena mungil. Dan aku termasuk beruntung.  
Allah menurunkan 120 rahmat melalui Ka’bah. 60 rahmat bagi mereka yang melaksanakan thawaf, 40 rahmat bagi mereka yang melaksanakan sholat, dan 20 rahmat bagi yang melihat ka’bah. Dan sesungguhnya sholat di Masjid Nabawi 1000 kali lipat bila kita melakukan sholat di tempat lain di penjuru dunia dan 100.000 kali lipat bila kita sholat di Masjidil Haram. Subhanallah. Dan barangsiapa yang melakukan umroh di bulan ramadhan pahalanya sama dengan menunaikan haji. Hari-hari berikutnya selain melakukan umroh-umroh. Aku juga melakukan thawaf sunat. Setelah sholat zuhur, tepat jam 1 siang. Aku thawaf sunat. Aku suka thawaf ba’da zuhur karena lebih sedikit orang yang mengelilingi ka’bah ketimbang waktu-waktu lain. Mungkin disebabkan bulan puasa dan matahari yang sangat terik, sedang kita diharamkan menutup kepala dan wajah. Seperti biasa aku sholat sunat setelah 7 kali keliling ka’bah di belakang makam Ibrahim. Kali ini, aku pelan-pelan masuk kembali ke putaran orang-orang thawaf. Tanpa susah payah, aku dengan mudah masuk di Hijr Ismail. Tempat setengah lingkaran di sisi kanan setelah pintu Ka’bah. Aku sholat sunat dua rakaat sebanyak-banyaknya. Setelah itu aku menghampiri dinding Ka’bah, tepat di bawah pancuran emas. Aku kembali memanjat do’a. Mataku tak mampu membendung sedih, haru dan bahagiaku mencium dinding Ka’bah yang beraroma wangi Hajar Aswad itu. Sebab tak semua orang mampu dan bisa tepat berdo’a di bawah pancuran emas. Usai itu, aku melanjutkan ke Rukun Yamani, kembali kali ini aku bisa tanpa terhimpit orang-orang yang juga ingin mencium batu tersebut.    
Yang menarik adalah ketika orang-orang berjuang keras untuk bisa mencium Hajar Aswad. Bahkan sebagian ada yang berkelahi dan menggunakan jasa orang lain untuk mengangkat seseorang mencium, menembus orang-orang lain yang juga berkeinginan yang sama; mengecup Hajar Aswad. Jasa itu biasa disebut Ojek, orang-orang yang ingin mencium batu Hajar Aswad dibopong oleh beberapa laki-laki dan membayar sejumlah riyal, minimal 100 riyal. Bagiku ini sebuah rekayasa karena dibantu dengan menggunakan joki. Selain itu, joki-joki yang membopong itu akan menerobos orang-orang yang antri mencium batu Hajar Aswad bahkan tak jarang mereka mendorong orang lain hingga terjatuh. Bagiku ini tindakan haram. aku kembali duduk memperhatikan semuanya. Aku baru sadar dan tahu kalau kompas yang selama ini kupakai sebagai petunjuk arah angin itu berpusat di Ka’bah. Manakala aku berada di kiri Ka’bah, petunjuk kompas mengarah ke barat. Begitu juga sebaliknya, Subhanallah. Seseorang mengingatkan aku bila tak ada lagi orang melakukan thawaf lagi maka kiamat akan datang.   
 Di Makkah aku juga berziarah ke beberapa tempat: Jabal Nur yakni tempat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama, di dalamnya ada gua (gua hira) seukuran Nabi Muhammad shalat, dan di dalamnya lagi ada lubang yang jika ditengok mengarah ke Ka’bah, Jabal Tsur (Tsur artinya kepala sapi/banteng) adalah tempat nabi Muhammad dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum Musyrik Quraisy, Masjid Namirah (Singa Betina) yakni sebuah masjid di kawasan Arafah yang menjadi tempat Rasulullah berkemah, Nabi memberi nama Namirah karena waktu itu di padang tandus Arafah hanya dihuni oleh seorang Nenek tua. Beliau takjub akan kemampuan Nenek renta tersebut lalu mendirikan masjid yang diberi nama Namirah oleh Nabi.  Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adam AS dan Siti Hawa selama 200 tahun, Mudzalifah; tempat mengambil kerikil dan niat bermalam (mabit) pada waktu musim haji, Mina: Tempat melempar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah. Ke Masjid Jin, Ma’la (makam istri Nabi Muhammad, Siti Khadijah), Masjid Abu Hurairah, Masjid Hudaybiyah (tempat Nabi Muhammad menandatangani perjanjian damai, perjanjian Hudaybiyah), Peternakan Unta, Kiswah Ka’bah/Museum Dua Tempat Suci.
Menjelang waktu kepulangan, kami diberi kesempatan untuk Thawaf Wada. Seperti do’a-do’aku yang sebelumnya aku berharap Allah memanggilku lagi sebagai tamuNya. Semoga allah mengabulkan do’a-do’aku, menerima ibadahku selama di tanah haram.
Lalu perjalanan kami dilanjutkan ke Jeddah, tanah halal. Jeddah yang dalam bahasa arab artinya Nenek, yang berarti Kota Tua di Saudi Arabia. Di Jeddah aku hanya semalam menginap di Royal Ansr Hotel, di daerah pasar tradisional. Aku juga ke Al-Balad, Laut Merah, Makam Siti Hawa, Masjid Terapung. Ada yang menarik di sini, sebelum ke Laut Merah. Bus yang membawaku melintasi ke sejumlah tempat-tempat asing bagi penglihatanku. Salah satunya dua gelas yang dipakai Adam dan Hawa pada massanya. Ukuran dua gelas itu lebih besar daripada drum air di Indonesia, yang diletakkan di tepi pantai dan bergelantungan. Warnanya merah dan hijau, yang dimasing-masing kanannya terdapat gagang berhiaskan pernak-pernik keemasan di setiap sisinya. Dan di seberangnya aku melihat sehampar batu-batu besar, tempat istirahat. Semacam kursi dan meja. Dan setiap satu kursi bisa diduduki beberapa orang. Aku teringat patung-patung peninggalan zaman Megalitikum di lembah Behoa, dan lembah-lembah lainnya di Sulawesi Tengah. Dari tekstur keduanya memiliki kesamaan. Pemanduku cerita, dahulu sekali sebelum Adam dan Hawa bertemu ratusan tahun. Adam keliling dunia mencari Siti Hawa, kala itu tingginya Adam 90 hasta yang setiap hasta sama dengan 0,5 meter. Dan ini berarti tinggi Adam 45 meter. Setelah 200 tahun Adam yang berada di Hindia akhirnya menemukan Hawa yang berada di Jeddah. Lalu keduanya saling mengejar dan bertemu di Jabal Rahmah. Romantika yang berliku, bukan? Masih banyak lagi pernak-pernik keintiman religiusitas yang aku rasa di Arab Saudi, khususnya sentuhan bathin ketika memandang rumah Allah. Alhamdullilah, betapa nikmatnya. Tak mampu aku dustakan. Suatu nanti, aku akan kemari lagi. Janjiku dalam hati.
Dari Jeddah menuju Istanbul, kota pintu gerbang Eropa. Mengunjungi Topkapi Palace, istana yang melambangkan kebesaran kesultanan Ottoman, Selanjutnya ke St.Sophia Museum yang di dalamnya kit dapat menyaksikan sejumlah pedang peninggalan para khalifah. Blue Mosque, yaitu masjid Sembilan menara yang melambangkan kota Istanbul. Tugu obelisk, Masjid Sulaiman dan Grand Bazar. Kemudian menyebrangi selat Bosphorus di sepanjang pantai Asia dan Eropa megunjungi Istana Dalmabache, menyebrangi Jembatan Gantung yang memisahkan benua Asia dan Eropa dengan melewati bukit Camlica yakni bukit tertinggi di Istanbul. Hari terkhir ke City Walk menikmati keindahan kota Istanbul yang merupakan ibukota Turkey bisa shopping di pusat pertokoan Taksim. Di sini menjual semua assesoris Timur dan Barat yang kadang bersimpangan. Selebihnya keindahan dalam meramu perjalanan hidup yang luar biasa!*



Hudan Nur, 2011      

Selasa, 05 April 2011

BAB KETIGA NOVEL ENIGMA

Sesudah Pembakaran

Rumah demi rumah, sepasang Sussex Inlet Road

di selamatkan oleh pasukan,

oleh sebab keahlian, keberanian, keterampilan

tapi pada saat api mencapai pinggiran kota kecil itu,

berkelarian liar besar, terlalu banyak hidangannya,

dan pilihannya – ada yang dihancurkan,

dan pipa rumah berbelit-belit,

seperti gula gula terbakar.

(Ian Campbell)

1

Asap-asap berhamburan di sekeliling.

Pukul 06.20

“Hidup terus saja menderu , mengikuti aliran zaman yang tak tahu dimana ujungnya, hari ini aku mau istirahat tanpa gangguan dari seluruh kepenatan pekerjaan di kantor!” Namun ….

“Ayah…!!! Ayah…!!! Aku menemukan sesuatu!” Khudhan yang mendengar teriakan anaknya langsung keluar kamar dan mencari sumber suara itu. Ia tahu kalau Adetra tidak akan begitu histeris jika ….

“Ayah, coba lihat benda itu! Apa itu ayah? Aku tak pernah melihat sebelumnya. Benda itu kulihat ketika aku selesai merapikan meja makan !” Adetra menunjuk ke sebuah benda yang sangat aneh yang letaknya hanya 100 meter dari ruang dapur tempat mereka tinggal. Benda itu berbentuk oval dengan warna silver, ia seperti igmobilef yang mempunyai bentuk setengah lingkaran, namun benda itu lebih mirip seperti cakram.

“Adetra, ayah mau keluar memeriksa benda itu!” Tegas Khudhan sambil mengenakan jaket hitam dan celana abu-abu yang dibuat dari bahan alumunium.

“Baik ayah, tapi sebentar lagi aku mau latihan teater buat kolaborasi persahabatan di Yupiter minggu depan. Dan igmobilef ayah aku pinjam ya…?” Pinta Adetra, tapi Khudhan tidak lagi mendengar ucapan anaknya, seluruh indranya kini tertuju ke benda aneh tersebut. Dan dulu, sebelum Khudhan dikirim ke Enigma, ia adalah seorang seniman dibidang teater. Bakatnya itu, ternyata diwarisi oleh putranya. Meski generasi terus berganti, aura seni yang penuh abstraksi selalu mengalir mengikuti zaman. Seni akan tetap tumbuh pada jiwa yang mengerti betapa berharganya arti sebuah kehidupan. Seni tidak akan pernah mati. Ia selalu abadi dalam fitrahnya.

“Hati-hati ayah!” Pesan Adetra ketika Khudhan membuka pintu belakang dan iapun hanya membalas dengan acungan jempol.

Dengan perasaan was-was Khudhan mendekati benda aneh itu namun, sebelum ia sampai di tempat tujuan, ia dikejutkan oleh dua lelaki yang keluar dari samping kanan benda tersebut. Keduanya memakai seragam ketat berwarna perak, baik baju, celana maupun sepatu. Yang satu berbadan gemuk dan satunya lagi agak kurus. Namun tinggi keduanya tetap setara. Tinggi mereka kira-kira 1,6 meter. Tapi Khudhan tidak pernah bertemu dengan orang-orang seperti ini sebelumnya, mungkin mereka berasal dari planet lain.

“Siapa kalian?” Khudhan mencoba memecahkan keheningan.

Lalu yang berbadan gemuk menjawab, ”Maaf, jika kedatangan kami mengejutkan anda. Tapi kami di sini tidak bermaksud jahat, kami hanya tersesat!”

Kemudian yang kurus menambahkan, “Kami berasal dari Mars, tadi malam kami mengalami kejadian yang luar biasa. Yang jelas kami dikejar oleh OWH, kami mencoba menyelamatkan diri hingga aku lupa dan tidak peduli lagi penunjuk arah untuk pulang ke Mars. Oh ya, perkenalkan namaku Ree Colosalevadhan dan ini sahabatku Goro!”

“Aku Khudhan Sunuglips!” Dan kedua makhluk asing itu bersalaman dengan Khudhan. Sekarang perasaan Khudhan menjadi tidak keruan, antara bingung, tidak percaya dan kagum. “Aku yakin kalian pasti lelah, bagaimana kalau kita sekarang ke rumahku? Letaknya tidak jauh dari sini!” Ree dan Goro hanya menganggukkan kepala.

“Tapi tunggu sebentar!” Sela Ree, sambil beranjak menuju ke dalam ruang benda aneh itu, rupanya ia mengambil sebuah koper yang isinya pasti sesuatu yang sangat berharga. “Sekarang aku sudah siap, yang mana rumahmu?” Ree bertanya karena rumah-rumah di sana semuanya sama baik warna dan bentuknya.

“Itu dia!” Khudhan menunjuk lurus ke depan, tepat di hadapan dimana ia berdiri.

Lalu mereka berjalan bersama menuju rumah yang dimaksud. Di dalam perjalanan, mereka bertiga hanya diam seribu bahasa. Entah apa yang ada di dalam benak mereka masing-masing.

***

Sekarang sudah pukul 11.15, matahari bersinar dengan sisa kemampuan yang dimilikinya. Ia masuk menerangi rumah Khudhan melalui ventilasi udara yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah, ruang yang diisi dengan sebaris sofa berwarna ungu. Tempat ketiganya berbincang. Kali ini situasi semakin rumit, pembicaraan sengitpun terjadi.

“Dengan kata lain, kalian juga berasal dari Bumi?” Khudan betul-betul tak percaya bahwa penerapan Teori Relativitas Einstein benar-benar ada dan salah satu buktinya adalah keberadaan dua makhluk asing ini.

“Dulu nenek moyang kami berasal dari Benua Atlantis, namun sekitar 9000 SM bencana banjir yang teramat dahsyat menengggelamkan benua itu, untungnya sebelum bencana itu terjadi, mereka mendapat sinyal dari getaran radiasi gelombang magnet. Mendapat kabar tersebut mereka langsung menyiapkan pesawat raksasa yang kapasitasnya menampung 2000 orang, lalu pesawat tersebut mendarat di luar angkasa. Tepatnya di Planet Mars”.

“Lalu apa yang menyebabkan kalian sampai berada di Enigma ini?”

“Kami juga tidak tahu!” Ree menjawab, “Namun…, ah…, aku juga bingung. Tadi malam, kami melewati suatu tempat, yang mana mengakibatkan mesin pesawat tidak berfungsi, bahkan lampupun padam, keadaaan begitu pekat. Tak ada yang terlihat kecuali kegelapan. Kami berdua terhimpit oleh kegalauan. Tapi beberapa saat kemudian kami melihat sebuah titik terang, lama-kelamaan kami sadari bahwa itu bukan sejenis titik terang biasa, ia seperti lubang. Ya…, lubang yang sangat benderang. Lalu pesawat kami tersedot ke dalam lubang itu. Dan tiba-tiba saja ketika kami sadar, kami sudah berada di sini.”

Khudhan diam sejenak, kemudian ia membuka beberapa file dari zuharfv komputer diva digital, yang sejak tadi berada di atas meja, “Aku pernah mendengar tentang hal itu, orang-orang menyebutnya lubang hitam. Lubang itu merupakan tempat perpindahan yang berhubungan erat dengan ruang waktu. Namun, banyak ahli di Bumi sekitar tahun 1960-an yang mengklaim hal itu dengan anggapan telah menyalahi konsep sains. Bahkan aku sendiri sependapat dengan mereka, aku tidak percaya terhadap hal-hal yang berbau paradoks. Tapi, setelah aku bertemu kalian, aku baru menyadari bahwa Teori Kemungkinan milik Einstein betul-betul dapat dicamkan!, lalu apa penyebab OWH mengejar…,” Ree langsung memotong ucapan Khudhan.

“Begini, apa kau tahu tentang Kepulauan Bermuda, San Juan dan Miami?”

Dengan lugas Khudan menjawabnya, “Segitiga Maut, Segitiga Bermuda!”

“Tepat sekali!, lalu apa yang kau ketahui tentang hal itu?”

“Entahlah, namun yang pasti ada suatu misteri yang terkubur disana. Banyak pesawat yang melewati kawasan itu menjadi korban. Mereka semua raib tanpa jejak!”

Goro yang dari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan keduanya, mulai berturut serta, “Apa kau tahu penyebabnya?”

“Tidak,” jawab Khudhan singkat.

“Baiklah, akan kuceritakan yang sebenarnya. Tapi kau harus janji tidak akan memberi tahu siapapun, karena ini sangat rahasia. Bagaimana?” Khudhan hanya menganggukkan kepala.

“Sebenarnya yang membuat kawasan Segitiga Bermuda itu adalah kami!”

“Apa!” Khudhan tak percaya.

“Ya, itulah kebenarannya. Di Mars, kadar gravitasi begitu sedikit dibanding Bumi, dan kami membutuhkan medan magnet yang luar biasa untuk menetralkan kondisi di sana, satu-satunya cara adalah mengeruk logam-logam yang bersemayam di Segitiga Bermuda. Lalu, kami mentransfernya melalui radiasi matahari. Akibatnya, setiap kapal dan pesawat yang melewatinya akan musnah dan hanya menyisakan puing-puing tak berjejak.”

Khudhan begitu nanar mendengar penjelasan Goro, “Aku tak menduga bahwa kalian tega melakukan hal itu demi kesejahteraan di Planet Mars. Dimana rasa tanggungjawab kalian, padahal korban yang diakibatkan dari perbuatan itu adalah saudara kita juga. Dan kenapa… Kenapa harus Bumi?”

“Kami tahu, kami salah tapi…, hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan kami!”

“Kalian betul-betul keterlaluan!”

“Keterlaluan katamu, Khudhan kau tahu apa yang mereka lakukan terhadap kami. Apalagi Si JAHANAM OWH, karena merekalah situasi di Mars menjadi kacau dan karena merekalah penduduk di Mars mati!”

“Apa hubungannya dengan OWH ?” Kali ini Khudhan benar-benar tak mengerti maksud Goro.

Lalu Ree mencoba menjelaskannya. “Khudhan, pernahkah kau berpikir tentang efek yang diakibatkan oleh suatu kata yang berkaliber besar seperti Perang Dunia Pertama. Pernahkah terbayangkan olehmu efek radioaktif yang digunakan negara-negara maju untuk menaklukan saingannya? Dan apakah kau tahu kemana efek-efek tersebut berakhir?” Khudhan hanya diam.

“Tahukah kau bahwa semua itu telah menghancurkan kami. Karena radiasinya tertuju ke planet kami! Sekarang, yang tersisa di Mars hanya sisa-sisa peradaban. Hanya kami berdua saja yang selamat dari amukan radiasi itu!” Tak sepatah katapun yang sangup keluar dari mulut Khudhan.

“Sekitar abad ke-16 OWH mengetahui keberadaan kami. Dan ia sangat menginginkan kami. Ia ingin menguasai kami. Menguasai Mars!”.

Tiba-tiba saja penjelasan Ree terpotong, karena bunyi sirine yang begitu menggema, namun Khudhan tahu bunyi itu berasal dari Te Zeusubim, Teknologi Pengaman tlepannimusz ruangan. Sedang di luar, orang-orang ribut karena terkejut oleh sirine tersebut. Dan hal ini baru kali pertama terjadi setelah Teknologi Pengaman tersebut dibuat. Kemudian Khudhan membuka beberapa file Te Zeusubim dan ternyata…, ”Fred…, Ree…, coba kalian lihat ini!” Khudhan memperlihatkan tulisan dari zuharfv komputer diva digital miliknya.

“BRENGSEK! Ternyata OWH mengetahui keberadaan kita!” Goro begitu menggeram, tampaknya ia sangat membenci, dendam, ia betul-betul marah kepada OWH. “Ketahuilah Khudhan, bahwasanya OWH itu sangat jahat, ia haus akan kekuasaan, ia adalah satu-satunya alat untuk menguasai dunia, tapi kami berhasil mencuri aset berharga milik mereka, di dalam koper ini terdapat gabungan unsur gas metana dan zat nuklir yang keduanya telah dicairkan. Apabila diledakkan maka akan menghancurkan sebagian alam semesta ini!”

Khudhan begitu terkejut mendengar kisah Ree yang begitu menggelora. Ia tak pernah menyangka bahwa koper yang dibawa oleh mereka itu adalah zat penghancur yang siap memusnahkan bagian jagat raya. Dan ditengah ketegangan itu, terdengar suara yang memecahkan kebisingan orang-orang di luar. Suara itu berasal dari Pemancar Te Zeusubim.

“Daerah ini telah kami sabotase, kedatangan kami ke planet ini tak lain mencari musuh kami yang bersembunyi di tempat ini. Dan dalam hitungan lima menit, apabila kalian tidak menyerahkan mereka, maka tempat ini akan kami hancurkan!” Sesaat keheningan menjelma.

“Ree…, sepertinya tak ada pilihan lain bagi kita! Khudhan bisakah kau mengantarkan kami ke tempat asal suara itu?”

“Jadi, kalian mau menyerahkan diri?” Khudhan agak heran mendengar keputusan itu.

“Baik Goro, aku setuju dengan pilihanmu itu,” jawab Ree.

“Apa kalian gila?, kalian akan dibunuh oleh OWH !” Khudhan mengingatkan.

“Khudhan, tenang saja kau. Aku dan Ree pasti bisa mengatasinya, kendati…, Khudhan cepat kau antarkan kami, sebelum waktu habis. Karena mereka tidak pernah main-main dengan kata-kata yang diucapkannya!”

“Baiklah, apa boleh buat!” Khudhan mengalah.

Ketika Khudhan membuka pintu, didapatinya Adetra yang kebingungan dengan atensi yang baru saja didengarnya. “Adetra, mana kunci igmobilef ayah?”

“Ayah, ada apa ini, apa yang sebenarnya terjadi?” Adetra bertanya sambil memberikan kunci ighmobilef yang diparkirnya di pinggir jalan, sisi kanan rumah mereka.

“Tak ada waktu untuk menjelaskannya Nak! Yakinlah, semuanya akan baik-baik saja. Ree…, Fred…, ayo!” Kemudian ketiganya memasuki igmobilef , sedang orang-orang di luar nampak kebingungan apalagi ketika melihat Ree dan Goro. Di jalan, Khudhan mengendarai igmobilef dengan kecepatan tinggi.

“Itu tempatnya!” Khudhan menunjuk Te Zeusubim dengan telunjuk kirinya. Sesampainya, mereka langsung berhambur ke pintu utama, tapi sebelum membukanya seorang laki-laki berkacamata hitam sudah menghadang mereka dengan mengacungkan senjata kepada ketiganya, ia berteriak “Mereka datang, mereka menyerah!” Lalu dia mengantarkan kami ke ruang utama.

“Hebat, kalian berdua benar-benar hebat, kalian bisa lolos dari kejaran kami semalam, tapi kalian lupa bahwa jejak kalian masih terekam di komputer kami.”

“Khudhan, dialah pemilik OWH, yang selama ini meresahkan kami!” Ree menunjuk laki-laki yang mengenakan jubah biru, yang berdiri persis di depan Khudhan.

“Aku tidak mau berbasa-basi, cepat kau serahkan koper itu!”

“Menyerahkan ini, jangan bermimpi kau BAJINGAN, lebih baik kuledakkan saja isinya daripada jatuh ke tangan orang sepertimu!” Goro sangat kesal atas pernyataan laki-laki itu.

“Apa kau berani melakukannya?” Laki-laki itu menantang.

“Kau kira aku takut!” Goro mengeluarkan pistol yang bersembunyi di saku celananya dan mengacungkannya ke arah koper yang ditenteng dengan tangan kirinya. “Lihat ini!”

“Goro jangan ceroboh kamu!, sadarlah apa yang kau lakukan!” Khudhan mencoba mengurungkan niatnya.

Sedang Ree yang berdiri di sisi kanan Goro hanya diam, seakan-akan ia setuju dengan apa yang akan diperbuat oleh rekannya itu. “Kalian, orang-orang OWH telah banyak melakukan kesalahan, kalian manfaatkan keadaan untuk misi kalian yang sangat terkutuk. Kalian telah menghancurkan kami, dan aku tidak akan memaafkan diriku apabila kali ini kalian lolos begitu saja!” Lalu Goro meledakkan isi koper itu dengan pistol yang bertengger di tangan kanannya. Maka…, DHUAAARRR !

Ledakan dahsyat terjadi. Dimana-mana lahar kripton bertebaran dan tak seorangpun yang mampu meloloskan diri dari keganasannya. Di atas, atmosferpun runtuh akibat amukan nuklir yang mengenainya. Tidak itu saja, di angkasa raya dentuman hebatnya itu mengakibatkan rotasi para planet terhenti beberapa waktu. Komet, satelit, asteroid dan meteoroid yang berada didekatnyapun hancur berkeping-keping. Enigma musnah !!!

***


SRI,SASINGGAM



Oleh: Hudan Nur

PAHIN pahinakan kada kawa baungkara. Manjanaki madah pahumaan wadah kita maniti rasa. Sasinggam tatak pambanihan masih haja takaluar mun maitihi kalakuan inya. Liwar. Kada kawa tehapus dalam buluh paingatan ulun nang saban hari mamintal ija dami ijaan puisi bariannya. Mun malam bahinggap di lindau urat, kacilangan buhul kiyauan mata kada lagi taturuti. Ulun baca pulang puisi-puisi pian nang meanduh. Hibak buhauan. Sri Nur Nengsih.
Bahanu bila taimbai ka sakulah inya bapadah “Udin. Udin. Sampiyan sudah juakah mambaca puisi nang ulun unjuk semalam. Semalam kita kada tetamu. Ulun hadangi. Tatap jua kada tedapat. Imbah itu ulun titipakan ai lawan Anang. Adalah inya maunjukakan nu pian?” Padahal saingat wan sapangatahuan ulun. Sri kada parnah talihat mahadang ulun. Pabila-bila? Paling jua Anang mun inya kada hauran, parak sanja ka rumah. Maantar puisi, sambil manakuni jawaban pi-ir hagan isuk harinya. Tapi kada papa jua. Ulun tatap katuju. Maski, inya lain urang banua. Tapi basa Banjar yang inya tulis dalam puisinya sampurna. Pandiranya gin, rikit banar banjarnya wan logat-logatnya. Kada katahuan kalu inya sabukuan lain urang banua. Sri mairingi kaluarganya lima walas tahun nang lalu pas abahnya manjabat pambakal kampung Sungai Tatak Ampat.
“Iih. Ada ai anaknya Haji Tukacil nu rumah maampah maghrib sumalam.”
“Kayapa manurut sampiyan?” Sri batakun pulang.
“Ai, napanya nang manurut ulun?”
“Isinya tu pang…”
“Liwar.”
“Napanya?” Sri pina balangsar kada tapi paham.
“Sri, sampiyan tu… kada kawa ulun kisahakan lagi. Ulun pina tahanyunyung samalaman. Sabatik ijaan kadada malingkaui indahnya puisi sampiyan. Liwar. Kababagusan Sri ai…”
Sri talingkup supan. Muhanya bahabang. Kahimungan.
“Antara puisinya wan nang manulisnya sama-sama kababagusan. Wan langkar-langkarnya… Ulun kada kawa mamajamakan mata. Nang taingat pian… pian… pian tatarusan…”
Bamagin Sri talintuk sanang hatinya. “Udin ni.. bisa banar… Din, ulun badahululah…”
“Bedahulu? Kanapa? Baimbai wan ulun aja… Jauh jua lagi… kada usah badadas!”
***
25 September 2004.
Ulun kirimakan riak-riak pahinakan ulun salawas talu tahun lalu. Salawas Sri bulik ka banuanya manyambung sakulah. Ka jawa. Kaya ini bunyinya;
Ulun sudah jua mambuktiakan. Baharaganya sinarai jiwa nang lupau. Manjumput ari yang kada kawa tailah. Babujur ngalih malindaui hati nang marista. Mun kawa baucap, ulun kada sanggup lagi manyaurangan. Bahindap banyu mata. Saurang mambilas parih hadang-mahadang. Kada jua tapakui. Pahin maharap kada kawa sampai. Talalu. Ngalih banar.
Mun bulih manjapai. Tasapui saliput angin nang manyirau. Manambahi padih sampai ka bumbunan. Kada jua pahin talapas kartas puisi dewi malam dari ganggaman ulun. Mun tailah, ulu hati ulun manyamak. Kada tahu jua napa panyababnya. Tagal manyasak mun bahinak. Barang sajampal buku nasi kada kawa jua tataguk.
Maitihi kartas-kartas barian pian mambawa ulun ka alam subalah. Alam impian ulun. Pamungkas lara yang salawas ngini manjanjiakan kabahagiaan. Di tambah pulang papadah abah Ibui kalu hidup kada manyambung pahinakan wara tapi manyambung mimpi nang tapagat di rukui sang widi. Urang hidup harus jua baisian mimpi. Mun kada, apa jua gunanya manajaki ulin di madah pahumaan nang licak? Bila kadada tugalan wan harap masih ada carucuk bahagia.
Ulun supan bapadah nu pian kalu ulun kada kawa guring mun kada mambaca puisi-puisi pian nang kaya papikat ulun mambuai harapan nang talanjur jauh tatanam. Maka wan ini jua ulun baharap, mudahan pian di sana kawa manyirau panji-panji kapadihan hati ulun. Baganti buhauan nang salalu ulun ganang. Ulun di sini tatap haja kaya bahari. Mahadang.
Salalu manasbihi ngaran pian,
Syamsuddin
***
Bilang ribuan kata sudah ulun buhul manyambung asa ulun nang hara mahadang. Harap-maharap, mudahan hati ini kada tagampir wan nang lain. Sambil mahadang musim katam, ulun maulangi puisi-puisi bariannya. Babanarannya, tulisan pian itu kada tapi bagus. Tapi bagi ulun sampurna mawakili hati ulun nang saban malam kakadapan, bahanu kadinginan. Tapi, mun tabaca tulisan pian, ulun marasa nyaman. Guring pun asa nyanyak.
***
23 November 2004.
Ulun wayah ngini lagi mahabui parai. Mun kadada halangan ulun handak bulik ka Banjar. Hadangi ulun lah???... Salajur ulun handak manganalakan pian lawan kawal ulun. Ulun karindangan wan pahumaan wadah kita bamain katam-kataman di padang Haji Tukacil. Ulun handak mambawai kawal ulun ngitu ka sana jua, kita kena bamainan banih baumbai…. Ah… ulun kada tapi sabar lagi!
***
1 Januari 2005
Ulun kada kawa lagi marasa kamardikaan. Ulun taikat masih. Kada mardika. Ulun kada kawa manambaikan hati nang talanjur padih. Padih banar. Imbah ngitu ulun balas pulang suratnya;
Babujur? Pian datang kasia? Ulun hadangi pian. Kaina ulun kawani pian bakuliling. Pahumaan Haji Tukacil batambah pulang, tujuh burungan jadi kita puas manugalinya. Kabar pian ini, manyumangati ulun nang sawat tahilangan panjanakan gasan isuk. Lajui datang Sri…
Selalu menasbihi ngaran pian,
Ulun pura-pura umpat himung. Dalam surat pian nang ulun baca bakalian, sabujurnya hati ulun manangis. Tapi ulun bisa apa? Ulun hanya urang kampung yang kada kawa bepadah kada. Asal ulun kawa malihat pian bahagia. Ulun rila mengubur api di hati ulun. Ulun harus mehancurakan parih kasuban luka di hati. Mun pian jua mahandaki nyawa ulun. Ulun bariakan. Ulun sadar haja pang, siapa gerang diri ulun ngini. Ulun anak urang nang umpat maambil upah mangatam di pahumaan Haji Tukacil. Nang panghasilannya babaya ada. Babaya kawa hagan makan bapais lara.
***
Pitung hari ulun mahadang. Salawas itu jua, ulun mamintal ija-ijaan nang bungaran gasan pian mun sampai ka hadapan ulun. Tau tahunan ngini ulun taumpat-umpat pian. Taumpat katuju maulah puisi. Ulun sibuk memilah ija mana nang sakiranya pas gasan pian. Sri.
Satumat imbah ngitu ulun tadiam. Malamun. Ulun taingat waktu masih di Aliyah. Ulun taingat pulang apa-apa tentang pian. Ulun paling katuju maitihi pian. Tapi pian kada tahu. Ulun paling katuju menjanaki muha pian. Langkar banar. Lasung pipit pian, mambari kapingin.
Kakawalan nang lain ada bapadah kalu muha ulun ngini kada kalah wan pamain film Sahrukh Khan. Tapi ulun kada tapi mandangarakan pandiran bubuhannya kerana pian salalu baucap kalu ulun gin kada bungas. Tapi, mun kada bungas kanapa pian masih haja hakun bakawan wan ulun? Pian diam, mun ulun batakun macam ngitu. Pian kada kawa lagi baucap, imbah tu pian takurihing. Langkar banar.
***
“Kayapa habar pian?” Ujar pian pas tadapat.
“Kaya ngini pang…” jawab ulun sambil malihat panampilan pian nang jauh banar bidanya. Wayah dahulu pian kada bisa badandan. Tapi nang ngini… Pian bagincu. Pian makai baju nang mampas di awak. Ulun pangling.
“O.. iih… Ini Bastoro kawal yang ulun kisahakan…” Sambung pian sambil bapingkut ka pinggang lalakian nang bangaran Bastoro tadi.
Ulun asa hambar manyambut tangan lalakian nang badiri di higa pian. Ulun kada lagi manganali diri pian. Kada panampilan haja nang barubah tapi kalakuan pian jua taumpat baubah.
“Sri… Ini gasan pian…” ulun unjuk puisi-puisi ulun yang sawat tapintal sambil mahadang pian ka banjar.
“Makasih… ini, ulun handak mambawa Bastoro bakitar-kitar…” Imbah itu, pian menggandeng lalakian ngitu manjauh dari hadapan ulun. Sakali lagi, ulun bisa apa?
Ulun hanya bisa managuk banyu liur. Masam.
***
Pitung hari barikutnya pian datang ka rumah ulun. Pian datang saurangan.
“Ulun handak bulik ka Jawa.. Hari ini, kami sakaluargaan handak pindah ka Jawa!” Mandangar ucapan pian ulun kada kawa baucap apa-apa lagi. Ulun kada sanggup tapisah wan pian. Walau ulun tahu pian sudah… Sisa banyu mata ulun haja nang gugur mawakili padihnya hati. Ibarat burung, halarnya rabit mandangar barita Sri, pas ulun handak meragap pian. Pian bajauh, malah maninggalakan ulun dalam limpuar banyu mata. Banyu mata urang miskin, nang hatinya tacabik-cabik manimbal maras.
***
25 September 2007
Urang tacagal salajur takijajang lawan parigal ulun. Ulun kada hingkat batantan burinik banyu mata. Ulun kada lagi ludang bapikir. Ulun mahing kada tajua taparukui manulis. Ulun masih mamintal puisi. Itu pang lagi nang bisa mambantu ulun maarit padihnya batin.
Sri masih likat dipahinakan
Sasinggam Sri meliirakan sagumpal ricuh
Ulun kada rigi manimbal maras
Mangisai prasasti di padang huma
Sri masih likat dipahinakan
Manyirau papakirma nang manggantung
Di surau limpuar
Ka ujung-ujung parakit subalah
Sri masih likat dipahinakan
Bagagararak manyurung sasinggam pirucuk
Nang bagumpal di sanarai tasbih
Sambil baucap…
Puisi-puisi ulun kada lagi sampai ka tangan pian. Ujar kurir post, pian sudah pindah alamat. Ulun kada tahu kayapa pian wayah ini. Kada sadar banyu mata baburik. Ulun bisa haja disambat panangisan, tapi kaya apa lagi?
“Astagfirullah, ulun cari kamana-mana sakalinya pian kasia? Nah, himpuakan Sri ulun handak ka pasar hulu, bajual sayur!”
“Inggih…” Jawab ulun sambil mehapus banyu mata salajur merabit puisi yang hanyar haja tuntung di gawi. Tuntung itu, ulun mangunci lawang wan perasaan ulun nang tahambur baburinik. Kada lawas, ulun mandatangi anak ulun nang bapuat.
Hinip ulun manjanaki inya. Umurnya jalan talu minggu. Ulun pusuti bumbunannya, “Sri sayang, jangan tinggalakan abah nak lah?” Imbah ngitu, ulun ciumi dahinya…***

Senin, 29 Desember 2008

cerpen 5



Lagi, aku terus berlari. Pokoknya aku harus bertemu dengan kau. Betapapun caranya. Kulalui sejengkal demi sejengkal satu-satu sisa desahan nafasku yang kian saat kian melemah, apapun yang terjadi kutemui kau. Sebelum waktuku habis. Denyut jantungku pun semakin kencang, mengalahkan langkahku berlari. Saking lelahnya berlari, aku tidak memperhatikan pandanganku ke depan, mataku hanya tertuju ke tanah karena menurutku cuma tanahlah yang kini dapat menyaksikan perjuanganku untuk bertemu dengan kau. Adakah peluang itu berpihak ke tanganku? Aku tak tahu. Siapakah yang peduli dengan harapanku?
Aku sudah lupa berapa lama sudah aku berlari, karena keberadaan waktu bagiku bukan apa-apa. Aku tidak mau diperalat waktu, meskipun demikian akupun sadar bahwa hidup itu sendiri tidak dapat terlepas dari kekakuan sang waktu. Akh, buat apa memikirkan dia, karena dialah juga, aku begini. Hidup terlunta-lunta, bersembunyi dari satu malam ke malam berikutnya dan hanya kaulah satu-satunya yang bersedia menjadi sahabatku, mendengarkanku. Aku sangat berhutang budi pada kau. Sekarang aku harus menemukan kau. Oh… kau di mana keberadaanmu sekarang ???! Aku sudah tidak tahan lagi…
Tidak. Aku tidak boleh memporsir pikiran hanya demi umpatanku atas ketidakberdayanku melawan segala. Apakah segenap upaya harus diakhiri pengorbanan? Kalau begitu, pengorbanan apa yang pantas membela kehadiranku. Sementara kebenaran dianggap sebagai sebuah anggapan. Sesuatu yang benar belum tentu benar begitupun kesalahan. Di mana letak kebenaran yang sebenar-benarnya? Lalu, tiba-tiba semuanya gelap, udara terbius pekat padahal malam belum saatnya menjelma. “Ada apa ini?”

*****
“Sen! kamu mencariku seperti sebelumnyakah? Karena awan buru-buru menjemputku. Katanya, kamu tidak sadarkan diri. Jangan bergerak!, kondisimu belumlah purna! Istirahatlah!,” pinta kau, disaat Seni mencoba menggerakkan anggota tubuhnya.
“Ternyata, aku masih bernafas!,” kilah Seni tanpa menjawab pertanyaan kau.
“Sen, duka apa lagi yang kamu rasai berbagilah denganku?, ceritakanlah! aku selalu siap mendengar pengaduanmu!?!!”
“Aku minta maaf kau!, karena selama ini aku terlambang hanya bersamamu disaat aku dilanda kepiluan, seperti aku dikecewakan kekasihku dulu. Tapi sungguh bukan begitu hasratku, karena di jalananku ini hanya ada satu sisi yakni minus. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku terlahir dalam keadaan seperti ini. Aku tidak tahu kau! Aku malu…,” keluh Seni.
“Sen, bagiku semua itu tidaklah penting. Yang penting, diriku dan dirimu masih tetap bisa memandang senja tenggelam berdua, aku tidak peduli apapun keadaanmu?,” hibur kau.
Kehambaran hati Seni terobati oleh kata-kata itu, “Terima kasih kau. Setidaknya masih ada yang mau mendengarkanku. Aku tidak tahu harus memulainya darimana? Jujur saja kau!, aku sudah penat. Orang-orang di bumi semuanya… mereka memfitnah aku. Aku yang tidak tahu apa-apa!??, aku bingung mengapa hal ini bisa demikian??”
“Bisa demikian? Maksudmu apa Sen???, aku tidak paham!,” tanya kau heran.
“Ketahuilah kau, bahwasanya semua manusia telah memakaiku sebagai tameng. Semua kelakuan buruk apalagi! Aku… Aku…benci! Sementara aku tidak mengenal siapa mereka? Tapi atas perilaku mereka itu disebut-sebutnyalah aku. Seni!”
kau semakin heran, “Sen, mengapa demikian? Aku tidak mengerti penjelasanmu itu?”
“Akupun demikian kau. Ketika aku berjalan di stasiun kereta api yang dipenuhi kerumunan penumpang, satu di antaranya berteriak ‘Jambret… Jambret….!!!’, lalu orang di sampingku tertawa sementara yang lainnya asyik mengejar si penjambret tersebut ‘Bodoh! andainya saja ia tahu seni mencopet manalah mungkin ia ketahuan, dasar payah!’ dan aku hanya diam mengartikan maksudnya. Aku berjalan lagi, entah kemana? Kulihat orang-orang berdesakan. Aku merasa heran ada apa? Lalu kudekati mereka, salah satu di antaranya mengatakan bahwa sebentar lagi pertunjukan seni teater akan segera dimulai. Akupun terdorong oleh desakan orang-orang di belakangku. Aku masuk ke tempat itu. Tempat yang sangat gelap dan yang ada hanyalah lampu-lampu kecil yang menyoroti dari atas sebuah podium dengan ukuran yang maha besar. Kudengar mereka menyebutnya panggung arena. Satu-satu orang keluar dari bilik podium raksasa itu serta merta lenggak-lenggok bergaya sambil berkata-kata. Sebuah tontonan yang mengaysikkan yang mengisahkan seorang lelaki dengan bolanya, ia gelindingkan dan sesekali dilemparkannya. Suatu ketika bola itu melayang menyambar ke arah salah satu jendela di keliling podium itu, lalu pecah. Lagi, aku diam. Lagi, mengartikan maksudnya. Kemudian aku berjalan lagi, lagi-lagi aku bertemu orang-orang. Ada seorang betina menangis, dengan tak sehelai kainpun membalut tubuh eloknya. Ia terus menangis dan meronta. Ia histeris dan berkata dalam tangisannya yang sebisa-bisanya itu; ‘Keperawananku telah dirampok, kemaluanku telah dijarah, diriku sudah disahaya…, biadab! Bangsat!’ lagi-lagi aku hanya diam. Dan lagi-lagi, mengartikan maksudnya. Aku tidak kuat menahan amarahku, aku teriak lepas, tanpa peduli dengan sekelilingku. Lalu aku berlari… berlari… dan berlari mencarimu! Aku pusing, aku bingung dengan apa yang terjadi!?”
“Begitukah???, begitukah mereka??? Memakaimu atas dasar hal yang dianggapnya lumrah. Mereka benar-benar telah memfitnahmu!,” iba kau.
“kau, setiap apa yang mereka lakukan berazaskan aku. Orang memperkosa orang dikatakan seni memperkosa, Orang mengikuti lomba tari dikatakan mengusung dan membudayakan seni tari. Ada juga orang yang bercinta mereka mengatakan seni bersenggama. Bahkan mereka menjabarkannya lagi dalam sebuah buku yang berjudul 69 seni bersenggama, khusus bagi anda yang ingin menikmati kenikmatan lebih. Penasaran, apa isinya lalu kubuka halaman perhalaman ternyata? Jijik aku melihatnya. Sepasang insan dengan kebugilannya berdekapan, sang betina dipeluk lawan jenisnya dari arah belakang menuju ke kiri. Ini dinamakan teknik menyamping. Bulshit, pantaskah buku semacam itu beredar dengan kandungan yang memuakkan? Parahnya lagi, aku membaca spanduk yang bertuliskan seni adalah seni. seni berkebebasan. lakukanlah apa yang kau mau sesukamu! Hidup seni!!! nanar aku melihatnya, sedemikian burukkah sudah seni di mata mereka. Lalu diinjak-injak oleh mereka yang mengaku-ngaku bagian dari seni. Padahal tahu apa sih mereka tentang aku? namaku dijual dimana-mana. Diseluruh belahan dunia ini. Bahkan mungkin sudah merambah ke luar angkasa sana. Katakan kau, aku harus berbuat apa?”
“Sen, tenanglah. Ini adalah ujian dari Tuhan bagi hambaNya dan Ia masih memberikan kesempatan bagimu untuk membeberkan semuanya kepada manusia-manusia itu, mengubah persepsi yang salah kaprah atas dirimu Seni. Aku percaya kamu pasti mampu melakukannya. Tapi……!!!???”
Mendengar jawaban yang menggantung dari kau, Seni bertambah bingung “Tapi…, tapi apa kau?”
“Maaf Sen, bukan apa-apa. Tapi, Tuhan sendiri memakaimu atas apa yang ia kehendaki. Ia membuat dunia ini dengan seni. Tanpa seni, aku tak tahu apa jadinya tempat kita menginjak ini? Ayat-ayat yang diturunkanNyapun memakai seni bahasa yang indah-indah. Bahkan ada umat agama yang menuliskan ayat-ayat kitab suci agamanya ke dalam seni kaligrafi dan ajakan untuk mengerjakan perintah Tuhannya dengan seni azan!,” papar kau pelan dan berhati-hati.
Sedang Seni hanya diam, ia merasa hidup tidak adil untuknya. Batinnya terus berontak, ia merasa dilakukan semena-mena oleh apa saja yang mengaku-ngaku atas dasar seni. Ia membenci semuanya, termasuk Tuhan. Ia merasa dimanfaatkan oleh semua.
“kau, dengan kata lain apa yang kita lakukan ini juga kamu katakan seni? seni mengadu!,” Seni mengapi-api bersama gaya laut merahnya.
Namun kau hanya diam. Seakan-akan ia mengiyakan pernyataan Seni.
“kau, kukira kau dapat menolong aku. Kukira hubungan kita dapat menjadi abadi. Aku salah menilaimu. Kamu sama saja dengan mereka. Kamu sama dengan kekasihku yang meninggalkan aku setelah puas mendapatkan apa yang dikehendakinya dengan atas dasar seni, ya… seni menghancurkan perasaanku. Seperti kamu, kau!!! Kamu jahat kau, Aku benci semua, aku benci SEMUA!!!”
“Sen, kontrol semua emosimu! Dengar!, sisi minus yang kau keluhkan tadi adalah sisi plus bagi yang mau memahaminya! Sadarilah segala kata-kata yang terdengar manis pada hakikatnya adalah mimpi. Kedamaian, keadilan dan kebahagiaan salah satunya. Bukankah kamu juga berupaya mewujudkannya? Kamu lupa, damai, adil dan bahagia adalah kebohongan belaka, untuk mengatasi kemelut pertahanan agar tetap senantiasa menetap untuk hidup. Adakah yang mampu menggapainya? Tak satupun. Apakah damai, jika di luar sana peperangan menggema? Apakah adil, jika di sekeliling kita masih terdapat gadis peminta-minta yang mengharap pasokan makanan demi menempa hari berikutnya? Apakah bahagia, jika duduk di punggung yang lain sementara yang didudukinya merasakan sakit yang maha. Seni sahabatku!, aku, kamu, mereka yang berada pada kehidupan adalah sama, bertahan bukan demi mimpi-mimpi itu. Tetapi demi luka!,” setelah mengucap luka kau menangis. Apakah baginya bertahan itu berarti menangis?
“Tidak… tidak… tidak kau!, kamu bicara sekenanya saja bukan? Menurutmu, segala seni, termasuk; damai, adil, bahagia merupakan semacam teka-teki yang berkutat di situ-situ juga. Layaknya labirin. Menurutmu, segala perlakuan tentang seni itu wajar? Haruskah semua jalan di lalui nestapa. Segenap derita. Demi luka?,” Seni menggeram, karena saat hanya berkeliling untuk kesia-siaan.

*****
Lagi, aku terus berlari… aku harus menjelaskan pada mereka bahwa aku adalah Seni yang tidak rela melihat perbuatan dengan mengatasnamakan aku, Seni. Aku tidak seperti yang mereka pikirkan, Jangan fitnah diriku lagi… kumohon, Mengertilah!!! Sambil berlari akupun menangis seperti yang dilakukan kau untuk bertahan, aku tak peduli. Sesekali kutengok ke atas, mengapa malam selalu dipenuhi kebungkaman. Tapi tidak dengan bintang yang berhamburan yang tidak bisa dijabarkan dengan hitungan tetapi diukur dengan perkiraan karena tak satupun yang tahu berapa jumlah bintang-bintang itu.



Guntung Payung, 20 Juli 2005 04:25 PM

Rabu, 03 September 2008

cerpen 4

Tuhan, Hudanilah Aku…


KARATAU masih seperti kemarin. Lugu, belum ada tanda-tanda transisi. Ia terhampar di kaki gugusan meratus. Sejuk. Bagiku, ia salah satu surga dunia yang pernah kukenal sejauh ini. Ya, aku bangga telah mengenalnya. Dia jugalah yang menjadi saksi kami, dari datu-datu, kakek, ayah dan aku tentunya. Terlalu indah untuk dilupakan. Ia menyimpan semua ketahuannya akan curahan perasaanku yang kemarin pernah aku keluhkan kepadanya, sesaat menikmati keperawanannya. Akan cinta-cintaku, Winda, Rahmi, Ratna, terlebih-lebih gadis cantik, berkerudung, putih… akh… Yayu namanya. Ketika namanya kusebut, hatiku berdegub apalagi bila aku berpapasan di jalan, di kelas misalnya. Akh… ia selalu mengubar senyum manisnya. Bibirnya. Wajahnya. Aku, aku, aku tidak bisa melupakan itu. Aku sangat mencinta. Oh Yayu.

Kami sama-sama bersekolah di SMAN 1 Barabai. Kedekatan perasaan ini, berawal saat aku dipercayakan memangku jabatan ketua osis di sekolah itu. Dan Yayu, bendaharaku. Biasanya, sebelum tidur, aku senantiasa mentasbihi namanya. “Aku tergila-gila padamu, Yayu sayangku!,” batinku menyeruak, jantungku tidak bisa mentoleransi ketika kusebut namanya. Seperti inilah jatuh cinta?, akut dan bisa membunuh.

“Maaf! Aku tidak bisa, kita berteman saja ya…?,” jawabnya ketika aku mengatakan perasaanku untuk kali ketiga. Karena setahun cukup bagi hatiku menahannya. Dan sebentar lagi pengumuman kelulusan di pamerkan. Aku tidak mau menyia-nyiakannya dengan berdiam diri, menahan egoku. Aku tidak mau kecewa karena terlambat. Ya, aku tak mau itu terjadi. Berkali-kali sudah kuutarakan ketulusan cintaku ini lewat surat, sms atau ungkapan langsung. Tapi, tetap saja ia menolakku. Apakah ketulusan masih kurang?

***

Kisah ini berawal. Ketika aku gagal memenuhi impian orang tuaku. Aku gagal masuk STPDN karena yang lain tidak mengandalkan kepiawaian otak tapi kelihaian melubangi dompet sendiri atau koneksi dengan pejabat di atas, orang pemda, bupati atau berkerabat dekat dengan gubernur. Sehingga rekomendasi menjadi tolak ukur, siapa saja yang berhak memasuki sekolah tersebut.

Kembali aku terluka karena gagal mencumbu mentari. Seperti hatiku, terluka oleh cinta. Masih adakah yayu-yayu yang lain atau cinta-cinta yang lain? Masihkah?

Sebagai gantinya, aku terpaksa kuliah di UNLAM Banjarmasin. Dengan jurusan yang kurang aku suka dan kuasai. Karena bakatku, bukan di situ. Aku mempunyai talenta kepemerintahan, aku pantasnya bukan di sini. Karena aku membawa gen pemimpin, yang kelak membawa bangsa ini pada kesentosaan. Tetapi? Bagaimana mungkin, Indonesia bisa bebas dari kemelaratan kalau rakyatnya demikian? Bagaimana mungkin aparat militer dapat mengamankan negaranya? Atau mungkinkah seorang polisi memberantas korupsi, nepotisme? Sedang untuk masuk pendidikan saja harus mengeluarkan puluhan juta agar diterima! Akh.. mana mungkin bisa? Polisinya saja begitu? Bagaimana mungkin maling menangkap maling, kalau maling teriak maling? Ya beginilah, sketsa wajah bangsaku yang penuh polesan. Kemunafikan. Semakin kaya materi dan pandai, semakin pintarlah orang memintari orang. Ke mana nantinya negara ini? Generasinya lahir dari orang tua yang juga bobrok. Mungkinkah generasi bobrok dapat menggebrak dunia? Mustahilkan? Buktinya, tingkat pendidikan Indonesia kian tahun kian merosot! Nah, terbuktikan? Generasi bobrok!! Seperi kamu, pejabat tengik yang kini sedang duduk keenakan di bahu orang kecil. Atau kamu, pengusaha batubara yang terus-terusan mengeruk amanah Tuhan, dan mengumpulkannya untuk pembangunan rumah-rumah mewahmu. Kasihani, anak-isterimu yang memakan hasil ulahmu. Bukankah, jika kau menanam kebaikan, kelak akan menuai kebaikan pula? Lalu….? Yang jelas aku tidak mau ikut-ikutan. Aku tahu, aku bukan orang baik tetapi aku akan lebih baik setidaknya tidak seperti mereka. Menyalahgunakan kepercayaan rakyat untuk kepentingan sendiri. Seperti mereka, tikus-tikus, anggota DPR-DPRD yang asyik berdiskusi, bagaimana caranya menggaet proyek yang nantinya berpulang untuk tambahan saham di kantong sendiri. Atau bagaimana upaya agar pada pemilu tahun berikutnya bisa mempertahankan kursi yang di dudukinya sekarang. Sekali lagi, itulah sketsa wajah bangsaku yang penuh polesan. Serigala berbulu domba. Oh tidak, kadal bermuka kera.

Sedang aku dan rakyat-rakyat lain hanya bisa mengisap jempol melihat aksi mereka. Mau mengadu? Pada siapa? Mereka berkomplot, menguasai pertiwi ini. Karena sama-sama tikus. Sama-sama bekicot. Padahal kami tahu bahwa bekicot itu menjijikkan, tapi apakah bekicot-bekicot itu tahu dirinya menjijikkan? Kalau ia juga berteman dengan bekicot?

Aku meluka karena semua ini. Aku meluka karena nasib, juga karena cinta.

Masih adakah cinta lain yang juga suci? Melebihi ketulusan cinta-cintaku sebelumnya.

Cinta… cintailah aku, cinta!

Sayang… sayangilah aku, sayang!

Kasih… kasihilah aku, kasih!

Peluk… pelukilah aku yang mendambamu!

***

“Ass. Maaf mengganggu. Kenapa sih kamu selalu memusuhiku? Apa salahku sama kamu? Aku hanya orang kampung yang datang ke kota besar seperti ini untuk bersekolah”, kukirim sms itu ke nomor 081349532305. Nomor itu kudapat dari kawanku Riza yang kini menempuh pendidikan di STIS, Jakarta. Mulanya, ia mengundangku untuk mengenalnya. Sewaktu, aku kebingungan mencari ruang perkuliahan seminggu yang lalu. Kami berpapasan di jalan, dan tiba-tiba saja ia menegurku.

“Namamu Aurakan? Aku teman sekelasmu, kita sekarang ada mata kuliah agama dan bertempat di aula dua?,” sapanya sambil memperkenalkan namanya. Lalu kuikuti saja langkahnya. Karena aku buta sama sekali dengan lingkungan baru ini.

“Perempuan aneh!”, hatiku berbisik. Sungguh dia perempuan agresif. Aku tidak pernah menemui manusia seperti dia. Dan mata itu, mata yang ada dibalik kacamata itu, mata yang….

“Wss. Drmn km th no.q? Lalu apa urusanmu dgnq? Jgn ganggu aq!,” dasar wanita aneh gumamku. Aku dibuatnya bingung. Apa salahku sehingga ia begitu? Ia begitu ketus. Kasar. Tidak lembut sedikitpun padahalkan dia seorang wanita. Guratan keibuanpun tak tampak dari kesehariannya. Berkali-kali aku mengirim sms dengan niatan baik. Untuk berkawan. Tetapi yang kuterima hanya makian, umpatan-umpatan kasar, seperti brengsek. Ada apa dengan dirimu? Wahai wanita aneh….

Jujur saja, aku tidak pernah mendapat perlakuan demikian sebelumnya. Apalagi dari seorang wanita. Tidak sekalipun. “Oh, Tuhan! Ampuni hambaMu. Hudanilah langkahku supaya tidak mengecewakan orang-orang terdekat, seperti ibu-bapak. Bimbinglah, hudanilah aku!,” pintaku padaNya ketika menutup rutinitas wajib setelah seharian penuh diujiNya. Dengan begini, perasaanku kembali tenang. Meskipun wanita itu terus memusuhiku. Tak ada sebab yang jelas, kudapat dari alasannya. Hanya segenap amarah yang ia tumpahkan di setiap sms kirimannya. Padahal kan… aku….

***

Anehnya lagi setiap sms yang kukirimkan untuknya selalu di balasnya. Puluhan kali bahkan. Padahal kan, katanya ia tidak suka dan mengganggapku musuh, tapi kenapa selalu di balas? Dasar wanita aneh.

“Ass. Kamu lagi ngapain?,” tanyaku lewat sms yang baru saja terkirim.

Status of +6281349532305 delivered. 20.05 WITA 24 September 2004.

“Wss. Aq lg mkn. Sebentar lagi slesai, lalu mo k kafe mamanda. Knp sih nanya-nanya? Kurang kerjaan!,” begitulah isi balasannya. Sama seperti yang kulakukan. Makan. Sekarang aku bersama teman sekamarku, menyantap hidangan di sekitar cendana. Maklum, anak kost, menginginkan yang serba praktis. Instant kalau bisa. Dan ini adalah juga yang kali pertama aku lakukan. Keluar malam. Sedari kecil, di Karatau sana. Meskipun aku seorang laki-laki, tapi tak sekalipun aku menghabiskan waktu di luar. Sehabis maghrib, aku mengaji, makan malam, lalu belajar. Tidak sekalipun aku keluar.

Dinginnya udara malam Banjarmasin, tidak sebanding dengan hawa pegunungan, tempatku dibesarkan. Baginikah Banjarmasin dalam warna malam?, bising. Berbeda jauh dengan kondisi di kampungku sana. Jam begini, penduduknya tak ada lagi yang berkeliaran. Sekalipun ada, itupun karena pengajian atau kenduri seperti mahaul.

“Nasi sama teh es, berapa Cil?,” tanyaku, sambil mengeluarkan selembar uang lima ribuan.

“Tiga setengah,” jawabnya dengan menyerahkan selembar ribuan dan lima ratusan.

“Tukar Cil lah?”

Di jalan, aku selalu kepikiran. Akan wanita itu. Setiap kendaraan atau apa saja yang kulihat selalu saja wajah wanita itu membayangi.

KAFE MAMANDA. Itukan?

“Assalamu’alaikum. Kamu ada di mana sekarang?”

“Aku lagi duduk-duduk di kafe!”

“Ini aku ada di depan kafe?”

“Aku tahu, kamu pakai baju hijaukan?, mundur lima langkah dari kamu berdiri sekarang?”

“Kamu melihatku?”

“Ya donk! Ayo mundur!”

“Aku…!,” pangling,dalam kebingungan.

“Ya gitu, selangkah lagi. Nah, udah liat aku kan?”

“Iiiiyaa..,” jawabku seraya menutup telepon genggamku.

“Hai!,” sapanya.

Aku hanya senyum, tipis.

“Duduk yuk? Sambil ngobrol-ngobrol gimana?,” ajaknya.

Aku tertegun, tidak biasanya ia seramah ini. Aku begitu terkesima.

“Mau minum apa? Kopi atau teh?, Jangan sungkan”

“Terima kasih, aku baru aja selesai makan?”

Nih!, cobain kacang rebus. Enak lho?,”tawarnya.

“Iya!,” jawabku singkat.

……….

***

“Tuhan hudanilah aku, hudanilah dalam memilih. Jalan mana yang Kau ridhai,” ucapku setelah kejadian kemarin. Bersama si wanita aneh. Wanita ketus, kasar, selalu memusuhiku, yang sesekali baik, sesekali ramah, sesekali…

Wanita itu…??

“Aku harus berani! Ya, harus. Apapun hasilnya,” perintahku pada tubuhku yang semakin gemetaran.

“Terima kasih ya… bukunya?,” seraya menyerahkan ke tangan wanita aneh itu. wanita yang…

“Awas kalau lecek!” jawabnya, lagi dalam nada ketus. Khasnya., sambil membolak-balik. Memeriksa kalau-kalau ada kecacatan.

Sebentar.

Ada yang lain dari wanita aneh itu, sehabis memeriksa bukunya. Ia tersenyum. Untuk yang pertama. Manis. Manis sekali. Senyum yang sudah lama kudamba. Memikat. Dan matanya. Matanya memancarkan rona lain. Dia tersenyum dan tertunduk. “Aku juga,” jawabnya sambil menenggelamkan wajah yang kian memerah. ***

Sabtu, 23 Agustus 2008

cerpen 3

Ketika Penisnya Tertancap di Vaginaku
By: Hudan Nur

Au…
Akh…
ORGASME


ZENA, kamu belum mengerti arti kehidupan pun cinta, begitu kata ibunya menasihati sebelum ia berangkat keluar rumah. Ibunya tahu betul bahwa anaknya begitu banyak memiliki teman lelaki, mereka berganti-ganti. Lain hari lain lagi lelaki yang diajak main ke rumah. Tentunya di saat ibunya sedang tidak ada di rumah.
“Zena, jangan terlalu sering berganti-ganti pasangan. Nanti kamu malah kewalahan. Pilih satu saja, kamu perempuan dilarang poliandri!” Begitu nasihat ibunya ketika usianya dua puluh tahun. Zena tidak terlalu memedulikannya. Ibunya setiap hari pulang larut malam, subuh malah. Dan paginya sering terdengar dengkuran. Dengkuran yang berbeda-beda saban hari.
Ayah Zena pergi meninggalkan mereka setelah mendapatkan wanita pengganti ibunya. Ia pergi entah ke mana? Waktu itu usia Zena tujuh tahun, Zena masih belum mengerti masalah orang dewasa. Sampai sekarang, masih belum ada kabar dari kepergian ayahnya. Entah masih hidup atau tidak. Zena juga tidak terlalu memedulikannya. Baginya, itu bukanlah hal yang penting, sama seperti lelaki-lelaki yang dipergokinya sedang tidur tanpa busana di kamar ibunya. Atau aroma bir yang tersebar saat ibunya pulang ke rumah.
Dulu sekali ibunya pernah bilang bahwa hidup seseorang itu masing-masing. Setiap orang memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri, juga pada dirinya. Toh semuanya yang empu jua yang menjalaninya. Jangan sekali-sekali kamu mencampuri urusan orang lain, kita memiliki hidup yang berbeda-beda. Jadi urusi dirimu sendiri saja.
***
Hampir sebulan ini, ibunya nampak jarang pulang ke rumah. Sekali pun datang, hanya sebentar, satu-dua hari. Lalu pergi lagi, entah kemana? Zena tidak merisaukannya, bukankah itu urusan ibu? Lama-lama Zena merasakan sepi. Sendiri di rumah yang walaupun kecil, tetaplah sunyi. Dia tidak betah kalau harus menyendiri.
Saat-saat seperti ini hanya Leyho saja yang diingininya. Dibandingkan Yhandie, Adhit, Ryan, Dhanie atau yang lainnya. Mereka hanya menggerayangi saja, mulai dari payudara hingga kemaluannya. Atau menindihi tubuhnya. Berdekapan tanpa busana sambil mengunyah bibir sampai lumat. Tidak ada yang lain. Bagi mereka, Zena hanya pemuas birahinya saja. Tapi, tak apalah. Kalau itu mau mereka. Zena selalu dengan senang hati meladeninya. Dia tidak pernah mempersoalkannya. Itu bukan hal besar.
Zena tahu betul mereka masih amatiran dalam hal bersenggama, tidak seperti Leyho. Ia mengawalinya dengan pemanasan. Menciumi atau menjilati seluruh tubuhnya, khususnya vagina. Ia melumat dan mengisap klitoris Zena. Sampai Zena mengerang, menanti untuk cepat ditindihi. Lebih cepat lebih orgasme. Zena keenakan. Akh… lagi… lagi… terus… orgasme.
Memang sulit membangkitkan orgasme wanita. Wanita seperti air harus dididihkan terlebih dahulu untuk panas dan matang. Sedang lelaki tidak, lelaki seperti api yang hanya cukup disulut sedikit minyak akan terbakar. Kepanasan.
***
Suatu hari, Zena kehilangan orgasmenya bersama kepergian Leyho yang lenyap, terkubur dari informasi berita. Leyho menghilang seperti ayahnya. Zena sudah mencarinya kesana-kemari, namun tak ada yang tahu. Dalam diri Zena hanya Leyholah satu-satunya yang mampu membuat dirinya berorgasme.
Zena sudah tidak orgasme lagi ketika disuguhi makanan. Ia sudah lupa bagaimana nikmatnya orgasme ketika makanan masuk melewati mulutnya. Begitupun ketika air meluncur di kerongkongannya.
Seiring kepergian Leyho, orgasmenya. Zena memutuskan untuk pergi dari rumah. Di rumah tak ada orgasme yang didapatnya. Sedang Zena tak tahan kalau harus hidup tanpa orgasme. Ia begitu menggila tanpa kehadiran orgasme. Ia iri pada ibunya yang bisa tertawa karena orgasme. Ia iri ketika mendengar desahan ibunya yang sedikit tertahan. Bersama lelaki manapun, ibu mampu orgasme. Tetapi tidak untuk diri Zena.
Bahkan ibunya masih sempat mendesah, ketika Zena mengutarakan niatnya untuk hidup mandiri. Belajar menata waktu sendiri. Tanpa disadari airmata Zena menetes, menjelang kepergian dirinya ibunya masih mengacuhkannya. Mungkin bagi beliau itu bukanlah urusannya. Pun ketika ia keluar dari rumah. Ibunya tetap berada di kamar. Entah apa yang dilakukannya. Tak ada jawaban darinya. Lalu dihapusnya airmatanya bersama langkahan kakinya meninggalkan rumah, mengejar orgasme.
***
Hidupnya makin memudar bersama orgasme yang tidak dirasakannya lagi. Tidak ada lagi orgasme makan, orgasme minum, orgasme tidur, orgasme senggama terlebih-lebih orgasme hidup. Setiap jalan-jalan yang dilalui Zena, setiap itu pula non-orgasme dijumpainya. Ia lelah. Ia tak tahu apakah masih bisa bertahan? Tanpa orgasme.
Seperti malam ini, ia masih ragu dapat melaluinya? Hasrat orgasme masih menggebu. Sementara kakinya terus melangkahi trotoar yang entah sampai mana ujungnya? Zena tetap tak peduli. Ditatapnya langit, bintang berhamburan di sana-sini. “Apakah bintang juga mengingini orgasme?,” tanya Zena dalam hati. Zena ingin berkata ketika sebuah bintang jatuh dihadapannya namun mulutnya membungkam. Mulutnya juga kehilangan orgasme. Hingga hanya bisa membisu.
Zena tidak bisa lagi menikmati apa-apa, manisnya gula, asinnya garam, perihnya luka, pulasnya tidur, gara-gara orgasme. Yang Zena impikan dari konaknya hanya menata diri, mencari Leyho. Meraih orgasme.
***
Sehari sudah Zena berjalan, kakinya mulai merasa sedikit pegal. Mungkin hanya kakinya saja yang masih memiliki orgasme capai. Maka berhentilah ia di sebuah kedai, sekadar beristirahat. Ketika seorang pelayan kedai tersebut bertanya, pesanan apa yang diingininya, Zena hanya diam,. Matanya mulai berkeliaran, dan terhenti pada satu tayangan berita televisi.
Koresponden lima-enam melaporkan bahwa telah ditemukan sesosok mayat berinisialkan L dengan tujuh bacokan di kaki, tangan dan lehernya.
Berdasarkan hasil otopsi L adalah korban penganiayaan brutal yang dilakukan pelaku. Setelah dua jam kabur, polisi berhasil membekukknya dan langsung membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi. Diduga kuat, pelaku menaruh dendam karena kekasihnya yang inisialnya Z direbut L setelah L menidurinya.
Pelaku menjelaskan bahwa dirinya tidak rela karena kekasihnya selalu memuji-muji L. Terlebih ketika pelaku orgasme dengan Z. Z selalu mengatakan ketidakpuasannya bercinta bersama pelaku. Z mendambakan orgasme seperti yang pernah dilakukannya bersama L.
Ketika L hendak bertandang ke rumah Z, di situlah pelaku menghabisi nyawanya. Pelaku berpura-pura meminta pertolongan korban. Pada saat korban lengah, pelaku langsung menghantamkan bacokan-bacokannya. Setelah yakin korban tewas, pelaku melarikan diri.
Demikian tiga-empat.
Terima kasih lima-enam. Baiklah para pemirsa, kami akan segera kembali selepas info komersial berikut ini, tetaplah bersama kami.
***
“Maaf, mau pesan apa ya mbak?”
Zena tidak menghiraukan pertanyaan pelayan tersebut, telinganya tidak orgasme. Lalu tanpa kata Zena pergi meninggalkan kedai itu. Zena tahu cuma kakinya sajalah yang memiliki hasrat orgasme. Ia hanya mengikuti kakinya melangkah.
Otaknya tidak tahu kemana kakinya membawa dirinya. Terus melangkah.
Kakinya membawa dirinya ke sebuah rumah sakit. Sementara otaknya masih tidak mengerti mengapa kaki membawa dirinya ke sebuah rumah sakit. Apa yang sebenarnya di cari kaki di sini.
Kaki terus berjalan, hidung Zena sudah mulai mencium obat-obatan. Matanya sudah mulai mencari-cari. Pikirannya sudah mulai menerka. Tubuhnya sudah mulai bergelora. Bibirnya sudah bisa menganga, sesekali giginya menggigiti bibirnya. Tangannya sudah mulai mengepal.
Kaki terus saja berjalan, bolak-balik. Namun otak sudah mulai mengerti dan mulai bekerjasama dengan kaki mencari, begitupun mata. Begitupun mulut, tak mau diam. Ia bertanya pada seorang resepsionis untuk memperoleh sebuah jawaban. Jawaban yang akan membuat seluruh anggota tubuhnya bergetar. Perutnya pun tak mau kalah, telinga mendengar bahwa perut sudah mulai berdendang karena lapar. Sudah lama ia tidak merasakan lapar. Lalu kaki menggiringnya ke dapur.
Setelah itu, kaki Zena kembali berjalan dan berhenti di sebuah ruangan. Zena memasuki ruangan itu dengan pelan dan berhati-hati. Ruangan itu begitu senyap yang terlihat hanya lemari-lemari yang tertanam di dinding. Satu-satu lemari dibukanya. Hidung mulai merasakan aroma yang begitu memuakkan. Bagi hidung ia lebih senang mencium aroma bir dari mulut ibunya ketimbang aroma busuk seperti ini. Meskipun diberi pendingin hingga menyerupai es, hidung tidak dapat berbohong bahwa masih tercium aroma tidak sedap.
Kembali tangan Zena membuka lemari-lemari itu, untungnya lemari-lemari itu tidak terkunci seperti pintu ruangan ini. Sudah lima lemari yang dibukanya, tetapi yang diingininya tidaklah ketemu.
Dibukanya lagi lemari lain, Zena sumringah ketika melihat isi lemari itu, sesosok yang sangat dikenalinya. Mulutnya sudah menebar senyum. Tangannya asyik meraba dan beraksi. Zena histeris. Berteriak sejadi-jadinya.
Hingga salah seorang perawat yang melewati kamar itu tidak sengaja mendengarnya. Perawat itu penasaran lalu dibukanya pintu.
Perawat itu menganga, takjub melihat tingkah Zena. Hingga tak sadarkan diri.
Setelah Zena sadar bahwa aksinya berlebihan, mengundang perhatian dan membuat seorang perawat pingasan. Zena keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan rumah sakit tersebut, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tak ada yang curiga padanya. Tak ada yang curiga bahwa di dalam kantong bajunya tersimpan sebatang penis …***


Guntung Payung, 1 Agustus 2005 05.55 PM
Inspired by cerpen WONG ASU…
karya Djenar Maesa Ayu
TERIMA KASIH ANDA TELAH MENGAPRESIASI CERPEN SAYA SEMOGA JUMPA LAGI